Tuesday, November 22, 2011

Hamil berkat sedekah

Bak palu godam menghujam dada, saat dokter ahli kandungan memvonis Chamelia tak bakal punya anak. Tak terbayangkan dukanya, bagaimana Chamelia dan suami Mart Andreyas Supeno, jadi pasutri tanpa anak. Selama dua tahun, sejak menikah pada 2006, segala macam usaha medis dan nonmedis agar Chamelia bisa hamil, tak jua berbuah hasil. Malah ujungnya divonis, mandul. Duh!
Chamelia sempat down. Untungnya, suami selalu menghibur dan mengajak untuk selalu bersabar. “Anak itu milik Allah, kalau Allah menghendaki menitipkan anak pada kita, tidak ada yang bisa menghalangi. Yang penting kita terus berikhtiar,” hibur Mart, pria kelahiran 30 Maret 1978.
Walau sedikit menghibur, tak ayal kegundahan terus menggelayut. Bayangkan, seumur hidup tanpa anak kandung…Walau ada yang menyarankan untuk melakukan inseminasi buatan, atau bayi tabung, sama sekali tak mengusik kenikmatan bayangan punya bayi kandung yang lahir secara normal seperti perempuan lainnya.
Saat hati sedang tidak karuan itulah, seorang teman memberi saran supaya melakukan konseling ke Wisata Hati milik Ustadz Yusuf Mansur, yang cabangnya ada di Masjid Agung Jawa Tengah. Chamelia pun bergegas ke kantor perwakilan Wisata Hati Semarang. Disana perempuan kelahiran Tegal, 13 Maret 1978, bertemu ustadz Saefudin.
Oleh ustadz Saefudin, Chamelia dan suaminya, disarankan untuk melakukan amalan
sholat taubat 6 rakaat sebelum tidur,
membaca istighfar sampai tidur,
sholat tahajud 6 rakaat,
kemudian kami tambah sholat hajat,
sholat dhuha 6 rakaat,
dan kami disarankan untuk melakukan sedekah sebanyak – banyaknya dan dibagi dibeberapa tempat.
“Semua harus kami amalkan dengan istiqomah dan ikhlas, hanya ridho dan kasih sayang Allah yang kami harapkan. Karena kami yakin bahwa Allah Maha Berkehendak dan memiliki segalanya. Kami pasrah anak yang punya Allah, jadi kami hanya meminta dengan Allah saja itu yang kami pikir saat itu,” tutur Chamelia.
Adalah kehendak Allah subhanahu wa ta’ala juga saat Chamelia ditakdirkan bertemu dengan ustadz sedekah, Ustadz Yusuf Mansur, di bulan Januari, tahun 2008. Saat itu ustadz Yusuf Mansur diundang ceramah di Masjid Baiturrahman, Semarang. Saat itu kepada para jamaah masjid ustadz Yusuf menghimbau supaya jangan ragu-ragu menguras isi dompet untuk tujuan sedekah” Sedekahkan seluruh isi dompet kalian.”

Kesempatan bertemu ustadz Yusuf tak disia-siakan oleh sepasang suami istri yang sedang dirundung duka itu. Kepada ustadz Yusuf, Chamelia memohon agar beliau mendoakan agar Allah segera memberikan kepada mereka anak. Ustadz Yusuf pun mendoakan mereka. “Yang penting ente-ente semua, jangan lupa bersedekah,” ujar ustadz Yusuf dengan gaya betawinya yang khas.
Chamelia dan suaminya pun, tanpa ragu menguras isi dompetnya. Yang tersisa hanya uang Rp 10.000, sekedar untuk jaga-jaga kalau tiba-tiba sepeda roda dua milik mereka, habis bensin atau ban bocor. Siapa sangka, semenjak peristiwa yang menguras air mata mereka itu, segala jalan cita dilempangkan. Masih di tahun 2008, tepatnya bulan Maret, Chamelia dinyatakan positif hamil. “Alhamdulillah, kebahagiaan kami tak terkira,” ujar Chamelia, yang diamini suaminya, Mart.
Neysha Fiedella Syabil, anak yang sudah ditunggu-tunggu itu, pun lahir pada 30 Nopember 2008. Duh, subhanallah, bahagianya.
Balasan dari Allah, jauh sebelumnya, juga sudah diberikan, yakni pada tahun 2007, beberapa bulan setelah saran ustadz Saefudin dilaksanakan oleh pasangan suami istri itu. Balasan itu berupa kemampuan membeli tanah, dengan harga di bawah standar. Lalu pada awal 2008, Mart dan istrinya mulai sedikit demi sedikit membangun rumah. Saat kami sedang membangun pondasi rumah itulah, Chamelia dinyatakan hamil.
Bahkan, ketika pada masa kehamilan ada gejala akan ada masalah, kami sikapi dengan cepat-cepat bersedekah. Kelahiran pun akhirnya berjalan normal.
“Sampai sekarangpun kami masih belum percaya kami bisa membangun rumah sampai Rp 300juta, anak kami lahir sehat. Sekarang kami jadi ketagihan buat sedekah karena apa yang kami beri dibalas Allah SWT berlipat ganda diluar perkiraan kami,” tutur Chamelia tanpa bermaksud ria, tapi sekedar mengabarkan betapa besar nikmat Allah, yang bisa diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

sumber text: www.asytar.com

Berkat sedekah bisa umroh sekeluarga

Sedekah memang dapat mendatangkan rejeki yang berlipat-lipat. Seperti yang dialami Johanis Suhaili beberapa tahun lalu. Ia bisa melihat Kakbah dalam umroh bersama keluarga. Berikut kisahnya.

‘’Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga umroh bersama sekeluarga,’’ tutur Johanis Suhaeli, yang berangkat umroh bersama 8 anggota keluarganya pada 4 Juli 2009. Tak hanya itu, ia juga sangat berbahagia bisa umroh bareng Ustadz Yusuf Mansur. Ini sungguh kesempatan langka.

Pekerja di bidang kontraktor ini mengakui, dua momentum itu sudah lama dirindukannya. Dan dia memang berjuang keras untuk dapat meraihnya. Riyadhoh adalah cara manjur yang diperolehnya dari Ustadz Yusuf Mansur. Yakni sedekah dan peningkatan amal ibadah lainnya.

‘’Waktu itu, saya baru punya uang beberapa puluh juta rupiah. Padahal, biaya umroh 8 orang sekitar Rp 175 juta. Tapi dengan ilmu sedekah, saya yakin saya akan bisa memenuhinya,’’ tutur bapak empat anak ini.

Digenjotnya lah sedekah dan ibadah dia sekeluarga. Bahkan Johanis mematok target, dalam jangka sekian bulan ke depan dia harus mengelurkan sedekah sebesar Rp 40 juta. Angka ini merupakan 10% dari nilai jual sebuah apartemen miliknya yang ingin dilepas.

Alhamdulillah, baru bersedekah sampai Rp 10 juta, apartemen itu laku. Dari situlah Johanis mampu melunasi sekaligus biaya umroh sekeluarga.

Itulah pembuktian kesekian kalinya kedahsyatan sedekah. Johanis menuturkan, ia dan istri dapat menunaikan ibadah haji pada tahun 2005, juga lantaran kekuatan sedekah. Tanpa sedekah, katanya, ‘’waktu itu naik haji kayaknya mustahil buat saya. Tidak cukup uangnya, hingga kemudian mendapat rizqon min haitsu laa yahtasib.’’

Suami dari Sekar Budi Kedasih ini juga yakin, ia dan istri dikaruniai empat anak berselang-seling putri-putra-putri-putra, dengan jarak usia ideal, lantaran sedekah. ‘’Setiap istri hamil, kami selalu bersedekah khusus untuk meminta kepada Allah mengenai jenis kelamin dan kesehatan anak kami. Alhamdulillah selalu terkabul,’’ terang Johanis.

Semua pengalaman tadi membuatnya ‘’gila sedekah’’. Seperti belum lama berselang, warga Magelang ini enteng saja menyedekahkan sebuah mobil melalui PPPA Daarul Qur’an. Hajatnya adalah, ingin diberi kemampuan agar dapat umroh setiap tahun.

Baginya, menjadi tamu Allah merupakan kehormatan besar dan berdampak besar pula bagi perbaikan kualitas kehidupan sekeluarga. Misalnya, keluarganya kini sudah berbudaya sedekah. Termasuk anaknya yang masih terbilang belia. Si kecil tak segan-segan mengingatkan orangtuanya bila lupa seharian belum bersedekah.

sumber text: aminarekasurabaya.wordpress.com

Hadis Rasullulah tentang pahala sesudah mati

sabda Rasulullah S.A.W.:
"Apabila mati seseorang anak adam, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; iaitu sedekah yang berterusan pahalanya, ilmu yang dimanfaatkan dan anak soleh yang mendoakan untuknya."

- [Riwayat Bukhari dan Muslim]

Sikap Bakhil Nafi Kesempurnaan Iman

SETIAP orang berasakan dirinya tidak bakhil, walaupun pada pandangan dan ukuran orang lain dia sebenarnya bersifat demikian, sehingga lupa untuk berzakat, bersedekah, memberikan belanja pada keluarga dan ibu bapa.

Malah, dia mengatakan dirinya bukan seorang yang kikir, tetapi cuma berhemat. Justeru, dia menyedekahkan pakaian yang lusuh kepada orang lain dan cukup berkira untuk berbelanja, khususnya kepada orang sekelilingnya.

Tetapi suka atau tidak, mereka yang tidak menunaikan tanggungjawab seperti di atas atau masih menunaikannya, namun dengan rasa berat hati seperti contoh terbabit sebenarnya tergolong dalam golongan yang bakhil.

Sifat bakhil sangat merugikan dan antara keburukannya ialah:

Dibenci Allah. Kebencian Allah adalah sebab kepada kesempitan dan kesusahan.

Sifat bakhil bukan sifat mukmin dan menafikan kesempurnaan iman.

Menampilkan suatu kebodohan. Tabiat manusia berasa benci dan jijik kepada orang bakhil dan kikir. Ini adalah bukti semula jadi kejinya sifat bakhil. Oleh itu, orang yang sanggup bersifat bakhil adalah suatu kebodohan.

Orang bakhil dibenci dan dikeji manusia, terutama di kalangan ahli ilmu dan mereka yang berakhlak mulia. Bahkan orang bakhil juga tidak disukai di kalangan mereka sendiri.

Dengan memerhatikan keadaan dan kehidupan orang bakhil, dapat disimpulkan yang sifat itu tiada kebaikannya. Cuma yang ada hanya keburukan, kedukaan dan kesusahan yang mengakhiri hidupnya.

Orang tua-tua mengungkapkan: "Kikir itu pada hakikatnya adalah fakir sekalipun banyak harta simpanannya dan pemurah itu pada hakikatnya kaya walaupun ia tidak berpunya."

Orang bakhil menjadi bahan cemuhan sewaktu hidupnya, bahkan selepas kematiannya. Harta yang disimpan tanpa dibelanjakan itu akan ditinggalkan. Sehinggakan mereka yang berhak mendapatnya tidak akan memujinya, tetapi akan menyumpah dan mencemuhnya. Malangnya nasib orang bakhil, di dunia dicela, di akhirat diseksa.

Orang bakhil biasanya akan sedar mengenai akibat buruk dan kebodohannya, bahkan kerugiannya apabila ajalnya hampir.

Pada waktu itu, dia cuba menebus kebodohannya yang lalu dengan mewasiatkan harta ditinggalkan untuk derma amal kebajikan. Tetapi mungkin ahli keluarganya tidak akan mengendahkannya.

Orang bakhil akan diseksa di akhirat, iaitu dengan dikalungi lehernya semua barang yang dia kikir. Dahinya dan belakangnya akan dibakar dengan emas dan perak yang disimpan tanpa dikeluarkan pada jalan Allah.

Sifat bakhil kerana takutkan kefakiran dan kemiskinan adalah tipu daya syaitan yang menjanjikan kekayaan, sedangkan pada hakikatnya bakhil itu adalah kemiskinan.

sumber text: virtualfriends.net

Kikir dan Sombong

Orang kikir dan sombong akan mendapat kesulitan dari Allah.
“Adapun orang yang kikir dan merasa dirinya kaya dan mendustakan kebaikan, maka Kami mudahkan dia menunju kesulitan.” [Al-Lail 8-10]
sebaliknya orang yang dermawan dirahmati Allah
“Maka barangsiapa memberikan hartanya di jalan Allah dan bertaqwa,dan membenarkan adanya pahala terbaik yaitu surga maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan.” [Al-Lail 5-7]
Allah telah mengatur bahwasanya orang yang mau memberikan harta yang dicintainya akan mendapat kebaikan yang sempurna,sedang orang yang merasa kaya dan susah memberi pada kerabat/sesama/anak yatim/fakir miskin,maka Allah mudahkan dia mendapat kesengsaraan.
Nah jika Allah telah berfirman demikian,betapa ruginya jika kita masih tidak memahaminya.Alhasil,kesulitan demi kesulitan akan terus menyertai hidup kita di bukan hanya dunia tetapi juga akherat.Boleh jadi gaji besar,tapi jika Allah berikan penyakit dalam diri kita,bukankah sebesar apa gaji tsb akan habis untuk berobat? atau bisa saja Allah memberikan masalah sehingga mengurus tabungan kita.Lantas dimana nilai gaji besar tsb? Boleh jadi rumah yang kita tempati megah,mobil mewah berjajar di garasi,namun jika Allah tidak memberikan ketentraman dalam hati pemiliknya,bisakah ia tidur nyenyak? tanpa merasa takut kehilangan hartanya? Harta yang banyak jika tidak dibarengi dengan zakat dan sedekah yang imbang maka tidak akan mendatangkan barokah bagi pemiliknya.
Ingatlah,Allah pasti memberi rezeki bagi setiap makhluk di dunia dan menjamin atas hidupnya. Akan tetapi ketika harta yang dititipkan Allah tsb malah membelenggu kita dalam kekikiran,maka kerumitan hidup telah berjajar di depan siap memeluk kita.
Hitam dan Putih telah ditunjukkan oleh Al-Quran,tinggal kita memilih..
Smoga kita smua disadarkan setiap saat bahwa harta yang kita banggakan, jika sewaktu-waktu Allah mengambilnya,kita tidak akan kuasa menahannya.. setelah itu kita tidak akan memiliki apa-apa,kecuali penyesalan karena tidak pernah mensedekahkannya.

Sumber text: majelisdzikirattauhid.wordpress.com

Buruknya Sifat Bakhil

1. Orang bakhil menyembah harta benda lebih banyak daripada menyembah Allah, Cintakan pada harta lebih banyak daripada cinta pada diri sendiri dan benci kepada kebaikan lebih banyak daripada benci kepada sakit dan dukacita. Oleh itu lihatlah apakah harga manusia jenis ini?

2. Harta merupakan jalan kepada kebaikan dan untuk hidup di kalangan manusia dengan diberi penghormatan dan kemuliaan apabila bijak menggunakannya sedangkan orang bakhil melihat kepada harta sebagai matlamat hidup sehingga tidak menghiraukan penghinaan dan kebencian manusia lain di atas sikap bakhilnya. Orang bakhil seperti manusia yang mati sebelum kematian sebenar dan menanam diri sendiri sebelum ditanam oleh manusia lain

3. Orang bakhil terlalu mengingati diri sendiri dan lupa kepada Allah serta terlalu bimbang terhadap kefakiran berbanding kematian. Orang bakhil terlalu takut kepada kefakiran berbanding siksaan dan pembalasan Allah

4. Seburuk-buruk jenis kebakhilan ialah sikap bakhil yang ada pada pemimpin atau ketua rakyat melainkan dia bakhil dalam menguruskan harta negara kerana yang demikian itu bertujuan menjaga amanah yang sememangnya disuruh oleh Allah dan rasulNya.

Sumber text: epondok.wordpress.com

TANDA-TANDA BAHAGIA DAN SENGSARA

TANDA-TANDA BAHAGIA

1. Menjauhkan diri daripada urusan dunia dan senang kepada urusan akhirat

2. Himmahnya(kemahuan) kuat terhadap ibadah dan membaca al-quran

3. Sedikit kata terhadap apa yang tidak diperlukan

4. Sangat memelihara sembahyang fardhu yang lima

5. Menjaga diri daripada yang haram dan syubhat, sedikit mahu pun banyak

6. Bersahabat dengan golongan yang soleh dan baik

7. Bersifat merendah diri

8. Bersifat dermawan yang ikhlas

9. Belas kasihan terhadap makhluk-makhluk allah yang lain

10. Bermanfaat kepada orang lain

11. Selalu ingat mati dan bersiap sedia menghadapinya


TANDA-TANDA SENGSARA


1. Rakus terhadap harta dunia

2. Kemahuan kuat terhadap nafsu syahwat dan kelazatan dunia

3. Kotor dalam perkataannya serta banyak ghibah (menceritakan cela orang lain)

4. Meringan-ringankan sembahyang fardhu yang lima
5. Berkawan dengan golongan yang fasik (derhaka)

6. Buruk perangainya

7. Sombong lagi membangga diri

8. Enggan memberi kebaikan kepada orang lain

9. Sedikit kasih sayang terhadap orang yang beriman

10. Bersifat kedekut

11. Lupa terhadap mati

Sumber text: badandakwahsmktunjb.blogspot.com

Kikir, Membuat Hidup Makin Fakir


Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr 9)
Abu al-Hiyaj bercerita, “Saya melihat seorang syeikh sedang thawaf di Baitullah sembari berdoa, ‘Rabbi qiniy syuhha nafsi, Rabbi qiniy syuhha nafsi, Wahai Rabbi, jauhkanlah diriku dari kekikiran, wahai Rabbi, jauhkanlah diriku dari kekikiran…” Dia terus menerus membaca doa itu dan tidak menambahnya dengan yang lain. Lalu saya mencari tahu tentangnya, ternyata beliau adalah sahabat Abdurrahman bin Auf RA. Akupun menemui beliau dan bertanya tentang alasan beliau membaca doa itu, lalu beliau membacakan firman Allah,
وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr 9)
Tiada Beruntung Orang yang Kikir
Ingin mengumpulkan harta sebanyak mungkin, dan bakhil mendermakannya selain untuk keinginan nafsunya, adalah tabiat buruk yang disandang banyak manusia. Dengan sifat itu, mereka menyangka bisa meraih keberuntungan. Namun ayat ini justru meyakinkan sebaliknya. Keberuntungan bisa didapatkan ketika seseorang terhindar dari sifat kekikiran. Sifat kikir mengundang banyak sekali kerugian dan keburukan, maka barangsiapa yang terhindar darinya, maka dia terhindar dari banyak kerugian dan keburukan.
Makna ’Syuhha nafsuhu’ tidak hanya sebatas bakhil, atau menolak untuk memberi. Akan tetapi juga disertai ambisi untuk memiliki apa-apa yang sudah dimiliki oleh orang lain. Dari definisi ini, bisa dibayangkan betapa besar kerugian yang akan dialami oleh orang yang berkarakter kikir.
Kerugian pertama dialami oleh hati. Orang yang kikir tak pernah merasakan lapangnya dada, atau puasnya hati saat memiliki. Panasnya hati saat berambisi terhadap sesuatu yang belum dimiliki, melalaikan dirinya dari kebahagiaan yang mestinya dia rasakan karena telah memiliki sesuatu yang bisa dinikmati. Derita ini tidak pernah berkurang kadarnya, meski dia telah berhasil meraih ambisinya. Karena sifat tamaknya segera mengalihkan pandangannya kepada kenikmatan lain, sebelum dia sempat menikmati hasil jerih payahnya. Jika keberhasilannya meraih tujuan tak bisa membuat hati menjadi nyaman dan tenang, lantas bagaimana jika usahanya menemui jalan buntu, betapa hatinya makin terbakar karenanya. Sungguh beruntung, jiwa yang terhindar dari kikir dan bakhil.
Kerugian kedua adalah miskin teman dan renggangnya hubungan kekerabatan. Orang yang kikir akan dijauhi, karena tak ada untungnya bergaul dengan orang yang kikir dan bakhil. Ambisi dan sifat rakusnya bahkan membahayakan siapapun yang dekat dengannya. Hartanya terancam, kehormatannya teranacam, bahkan terkadang nyawa juga tak aman dari ancaman. Karena orang yang kikir hanya peduli dengan dirinya sendiri, dan tidak memikirkan kepentingan orang lain. Nabi SAW bersabda,
”Jauhilah oleh kalian sifat kikir (syuhh). Karena sifat itulah yang membinasakan orang-orang sebelum kalian. Sifat kikir menyuruh mereka berlaku zhalim, maka merekapun berlaku zhalim. Kikir menyuruh mereka memutus kekerabatan, merekapun memutusnya.” (HR Abu Dawud)
Harta yang mestinya berfaedah menenangkan jiwa, juga mengikat sahabat dan kerabat, justru menjadi petaka bagi orang yang bakhil. Padahal persahabatan, persaudaraan dan kekerabatan adalah faktor penting yang mendukung kebahagiaan dan ketenangan. Jauh lebih penting dari sekedar mempertahankan harta dan menimbunnya.
Adalah Qais bin Sa’ad bin Ubadah RA dikenal sebagai orang yang suka berderma. Suatu hari beliau sakit, namun teman-temannya tak kunjung menjenguknya. Beliau merasa penasaran, lalu mencari tahu tentang sebabnya. Hingga kemudian diperoleh jawaban, bahwa mereka malu untuk datang karena masih punya tanggungan hutang kepada beliau. Beliau berkata, ”Alangkah buruknya harta yang menghalangi seseorang untuk menjenguk saudaranya.” Lalu beliau menyuruh untuk diumumkan bahwa siapapun yang memiliki beban hutang kepada Qais, maka diputihkan dan dianggap lunas. Maka sore harinya daun pintunya rusak lantaran banyaknya orang yang menjenguk beliau. Sungguh beruntung orang yang terhindar dari sifat kikir dan bakhil.
Fakir di Dunia, Siksa di Neraka
Meski sifat kikir diharapkan bisa mendatangkan keuntungan materi bagi pemiliknya, namun tidak demikian kenyataannya. Kikir tak akan menambah harta dunia, apalagi kekayaan akhirat. Orang yang kikir akan luput dari doa malaikat untuk keberkahan orang yang mendermakan hartanya. Justru doa kebangkrutan tiap pagi yang tertuju untuknya. Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Nabi bersabda,
”Tiada datang pagi hari yang dilalui hamba Allah, melainkan ada dua malaikat turun. Salah satunya berdoa, ”Ya Allah berilah ganti (yang lebih baik) baik orang yang berderma.” Sedangkan satu malaikat lagi berdoa, ”Ya Allah, timpakanlah kebangkrutan atas orang yang menahan pemberian.” (HR. Bukhari)
Yang paling parah, sifat kikir menyebabkan seseorang miskin pahala kebaikan. Karena sifat ini merusak hasrat akhirat, menjauhkan pemiliknya dari keberuntungan yang hakiki dan abadi. Hasratnya hanya tertuju untuk dunia yang hina dan fana. Maka kelak, sebagai balasan bagi mereka,
Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. at-Taubah: 35)
Allahumma qinaa syuhha anfusanaa”, ya Allah, jauhkanlah diri kami dari kekikiran. Amien. (Abu Umar Abdillah)

sumber text: ahmad-zulboys.blogspot.com

Monday, November 21, 2011

Redha Allah bergantung atas redha ibu bapa


Keredhaan Allah atau Mardhotillah adalah sesuatu yang diharapkan oleh sekalian hamba Allah yang beriman. Setiap amalan yang kita lakukan hendaklah dengan niat untuk mendapat keredhaan Allah kerana tiada apa lagi ganjaran yang lebih tinggi melainkan redha Allah s.w.t ke atas kita semua. Dengan redha Allah barulah kita mendapat bantuan, pertolongan dan ganjaran dari Nya. Salah satu jalan meraih redha Allah adalah dengan mencari keredhaan ibu dan bapa kita.

Mencari keredhaan ibu bapa tampak seperti perkara kecil bagi muda-mudi Islam di zaman moden ini. Ada dari kita yang tidak menjaga adab dengan ibu bapa, ada yang mengaggap ibu bapa seperti rakan sebaya malah ada dari kita yang sanggup membentak dan menderhaka kepada kedua insan yang membesarkan kita dengan penuh susah dan payah. Mengundang kemarahan ibu bapa sama ertinya dengan mengundang kemarahan dan kemurkaan Allah s.w.t. Begitu juga sebaliknya. Rasulullah s.a.w bersabda:

"Sesiapa yang memancing kemarahan ibu bapanya bererti dia memancing kemurkaan Allah dan sesiapa yang menyukakan hati ibu bapanya
bererti dia membuat Allah redha kepadanya." (Riwayat Baihaqi)

Kemarahan ibu bapa kadang kala tidak terlihat di raut wajah mereka. Kita sama sekali tidak tahu mereka berkecil hati terhadap perilaku kita. Oleh kerana itu adalah menjadi kewajiban bagi kita semua untuk menjaga adab dan tingkah laku kita sebagai seorang anak setiap masa sebagaimana firman Allah s.w.t:

"Dan TuhanMu telah perintahkan, supaya engkau tidak menyembah melainkan kepadaNya semata-mata, dan hendaklah engkau berbuat baik kepada ibu bapa. Jika salah antara keduanya atau kedua-duanya sekali, sampai kepada umur tua dalam jagaan dan peliharaanmu, maka janganlah engkau berkata kepada mereka (sebarang perkataan kasar) sekalipun "Uh", dan janganlah engkau menengking menyergah mereka, tetapi katakanlah kepada mereka perkataan yang mulia (bersopan santun)." (Al-isra' :23)

Cuba kita merenung kembali saat mereka membesarkan kita. Ketika itu kita hanyalah seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Tiada kekuatan dan tiada daya dan upaya tanpa pertolongan mereka. Bayangkan saat kita semua menangis ditengah malam, mereka bersengkang mata mendodoi dan menidurkan kita.

Tiada istilah tidur nyenyak bagi mereka demi untuk memastikan kita tidur dengan baik. Adakah kita semua lupa saat itu?. Fikirkan kembali bagaimana mereka memberikan kita makan, tempat tinggal, pelajaran, duit dan segala macam kesenangan untuk membesarkan kita hingga kita menjadi diri kita sekarang ini. Fikirkah kita semua itu?.

Sekarang, saat kita membesar dan mempunyai kekuatan, daya dan kesenangan, mudah bagi kita melupakan jasa kedua ibu bapa. Sedangkan suatu masa dahulu kita hanya tahu menangis dan meminta. Ketika mereka tidak lagi berdaya, tubuh sudah lemah, rambut dipenuhi uban dan mata mulai kabur, mungkinkah bagi kita menjaga mereka sama seperti mereka menjaga kita sewaktu kita kecil?.

Fikirlah sejenak wahai diriku dan saudaraku sekalian. Ada benarnya pepatah mengatakan bahawa seorang ibu dan bapa boleh menjaga sepuluh orang anak dalam suatu masa namun sepuluh orang anak belum tentu boleh menjaga seorang ibu dan bapa. Itulah hakikat pahit yang perlu ditelan.

Lihatlah wajah mereka, curahkanlah segala kasih sayang buat ibu dan bapa. Sesungguhnya mengasihi mereka membuahkan kemaafan dan keampunan dari Allah terhadap dosa kita. Ketika Abu Musa dan Abu Amir sampai ke Madinah dan berbai'ah kepada Rasulullah, maka Rasulullah bertanyakan keadaan isteri mereka ketika ditinggalkan. Mereka menjawab "Isteri saya tinggal bersama orang tuanya dan berbakti kepadanya" Rasulullah s.a.w berkata "Dosa-dosanya telah diampunkan oleh Allah s.w.t" Mereka bertanya kepada Rasulullah "Kenapa ya Rasulullah?." Baginda menjawab "Kerana dia berbakti kepada orang tuanya".

Hargailah ibu bapa kita selagi hayat mereka masih ada. Selagi mereka masih disisi kita, itu adalah anugerah Allah dan wajiblah kita menjaga mereka sebaik mungkin. Tanpa ibu dan bapa siapalah kita. Ucapkanlah kata sayang, tautkanlah bibit cinta dan rantaikanlah dengan rantaian kasih bersama mereka. Moga redha Allah bersama dengan kita kerana redhanya ibu bapa terhadap kita. insyaAllah.

sumber text: iluvislam.com

sumber imej: fafahmadbelog.blogspot.com

Sunday, November 20, 2011

Pengemis Pelit dan Wanita Dermawan


Semua orang tahu akan kekuatan sedekah, kekuatan berbagi pada sesama, serta kekuatan memberi pertolongan dengan ikhlas. Hari itu hati saya dibukakan sebuah peristiwa tentang dampaknya jika kita tidak mau memberi atau berbagi dengan sesama. Kisah ini terjadi saat saya masih SMA, tapi sampai sekarang masih melekat dalam ingatan saya.

Saat itu saya bersama beberapa teman mendaki sebuah gunung. Karena persiapan dan perbekalan kami tidak memadai, kami kehabisan bekal sampai puncak. Seumur hidup, saat itulah saya merasakan yang namanya orang kelaparan dan kehausan dalam situasi yang nyata (bukan puasa).

Dalam proses menuruni gunung, kami sangat bersyukur karena akhirnya bisa sampai di sebuah desa. Rumah pertama yang kami tuju adalah sebuah rumah megah waktu itu. Hanya satu yang sangat kami butuhkan saat itu; air…..

Sungguh diluar dugaan, saat kami akan meminta air, kami dibentak-bentak oleh orang tua di halaman rumah megah tersebut. Saat itu di depan bapak tua ada sepiring kue dengan jumlah yang banyak serta air putih yang cukup dipakai minum kami berlima. Dengan nada sinis bapak tua itu mengatakan kalau kami tidak boleh minum air yang dia punya dan kue yang ada di meja. Kami disuruh minum air kran…..!

Karena sudah sangat kehausan dan kelaparan, akhirnya kami berlima minum air kran yang ada di halaman. Dua orang teman saya sudah minum air kran, tiba saatnya saya yang akan minum tiba-tiba keluar seorang wanita dari dalam rumah.

Yang membuat saya syok, wanita itu memarahi kami. Kami tidak boleh minum air dari kran rumahnya. Saya kira dia pelit juga seperti bapak tua tadi, tapi ternyata maksudnya kami disuruh minum air yang ada di depan bapak tua tersebut. Dia mengatakan kalau air kran tidak sehat…..

Saat wanita itu akan mengambil air yang ada di depan bapak tua, tiba-tiba bapak tua tadi marah. Dia bersikeras kalau air itu adalah hak dia, dia tidak mau membaginya pada kami. Kami tetap disuruh meminum air kran saja agar jatah dia tidak berkurang.

Dengan lantang wanita itu langsung mengusir bapak tua tadi. Ternyata bapak tua tadi adalah seorang PENGEMIS yang setiap hari diberi jatah makanan oleh wanita kaya tersebut. Dan saat itu juga wanita itu berjanji tidak akan mau memberi lagi makanan kepada pengemis tua itu karena peristiwa yang terjadi pada kami.

Tanpa kami sangka, wanita tadi mengeluarkan semua makanan yang ada dalam rumahnya. Nasi, lauk pauk, buah, sampai kue-kue dia keluarkan dan menyuruh kami memakannya. Dia sempat berlinang air mata melihat kondisi kami yang kelaparan dan kehausan. Pakaian kami sangat kotor waktu itu karena beberapa kali kami harus merangkak karena kehabisan tenaga…..

Saudaraku, dari kisah saya ini bisa kita lihat. Bahwa Allah akan mencurahkan rejeki berlimpah pada orang yang mau berbagi. Wanita kaya tadi rejekinya berlimpah karena dia selalu berbagi pada siapa saja yang membutuhkan. Sedangkan pengemis tadi, rejekinya sulit karena dalam hidupnya selalu memikirkan dirinya sendiri tanpa mau berbagi.

Semoga kisah ini bermanfaat dan menjadi bahan renungan kita semua. Sukses untuk Anda…..

sumber text: motivasi.petamalang.com

sumber imej: mahmudsha.wordpress.com


Jika aku jatuh hati

Layan...

sumber: youtube

Di Kala Duka, Berselimutlah dengan Istighfar

Dalam kehidupan sehari-hari masalah sangat akrab dalam kehidupan kita. Bentuknya bermacam-macam. Ada yang kesulitan mendapatkan jodoh. Ada yang diuji Allah SWT dalam mendapatkan pekerjaan. Tidak sedikit yang kehilangan orang yang dicintai baik orang tua, anak atau pasang hidup.

Pada situasi itu biasanya kita merasakan kesedihan mendalam. Dunia terasa mau runtuh, hidup terasa sempit karena kita tidak berhasil mendapatkan apa yang diinginkan. Kita merasa sendirian dalam menjalani kerasnya kehidupan.

Melihat masalah memang tidak ada habisnya. Setiap manusia hidup, Allah SWT akan mengujinya dengan masalah. Itu sudah janji Allah SWT menguji keimanan dan ketangguhan manusia mengarungi samudera kehidupan. Dalam mekanisme itu terjadi seleksi alam. Bagi yang memiliki keimanan kuat, dia akan berusaha bertahan sehingga Allah SWT memberikan jalan. Tapi bagi yang lemah keimanan berdampak frustasi (stress) yang tak jarang berakhir bunuh diri.

Masalah sendiri sangat berkorelasi positif dengan paradigma (sudut pandang). Seorang yang memandang negatif masalah akan berdampak aura negatif. Berbeda ketika kita memandangnya sebagai peluang. Energi negatif berubah menjadi energi positif. Ketakutan berganti timbulnya rasa optimisme.

Allah sendiri sudah menegaskan, salah satu terapi mengatasi masalah adalah istighfar. Allah SWT menjamin, orang yang banyak istighfar tidak akan merugi. Dan janji Allah SWT itu pasti dan tak terbantahkan. Jadi jika anda punya masalah kesulitan mendapatkan rezeki, anak dan kebahagiaan perbanyaklah istighfar. Jaminan itu terlukis indah dalam Al-Qur’an :

Allah berfirman,”Maka aku katakan kepada mereka: ”Mohonlah ampun (istighfar) kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS.Nuh: 10-12).

Banyak manusia tidak menyadari kekuatan rahasia yang terkandung dalam istighfar. Istighfar terbatas dimaknai sebagai permohonan ampun atas segala dosa. Pemaknaan ini membuat kita kadang malas beristighfar. Sebagian orang “melupakan” energi besar istighfar sebagai warisan agung Rasulullah SAW. Rasulullah bersabda,

“Sungguh, Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya daripada kegembiraan salah seorang dari kalian yang menemukan ontanya yang hilang di padang pasir.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Ya, makna istighfar sebagai penghapus dosa itu benar adanya. Tapi sudut pandang itu terlalu sempit. Cobalah menggali lebih dalam indahnya istighfar. Sebab seandainya masalah itu penyakit, istighfar adalah obat yang mujarab. Jika sudah ada obatnya, gratis pula mengapa kita tidak menikmatinya.

Sungguh penghalang kita terhadap Allah Rabbul Izzati salah satunya adalah kebiasaan bermaksiat. Maksiat membuat rezeki kita terhalang. Maka ketika menjalani proses istighfar, kita diminta memohon ampun, menjauhi maksiat dan meminta kebaikan. Rasulullah bersabda :

Siapa yang banyak beristighfar, Allah akan membebaskannya dari berbagai kedukaan. akan melapangkannya dari berbagai kesempitan hidup, dan memberinya curahan rejeki dari berbagai arah yang tiada diperkirakan sebelumnya. (HR Ahmad)

Kebaikan banyak macam dan bentuknya. Salah satunya seperti yang diterangkan hadits di atas. Kesempatan mendapatkan rezeki menjadi salah satu bentuk kebaikan. Maka istighfar menjadi solusi dari 1001 masalah kita. Sungguh tak ada ruginya mengikuti jejak Rasulullah SAW yang membiasakan 100x istighfar dalam sehari. Padahal beliau sudah mendapatkan jaminan syurga dan tidak kekurangan harta dunia selama menjalani hidupnya.

Membaca istighfar sama dengan sedekah. Dengan memperbanyak beristighfar, percayalah rezeki kita akan mengalir lancar. Kesedihan hati akan hilang, digantikan kelapangan dada menerima takdir Allah. Tentunya setelah berproses dan berikhtiar (berusaha keras). Dan tahukah anda? Istighfar membuat Allah senang apalagi jika kita menjadikan sebuah rutinitas harian.

Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka,”(HR.Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).

sumber text: www.fimadani.com

sumber imej: www.fimadani.com


Pahala Infaq


Allah s.w.t. berfirman dalam hadis qudsi:
"Wahai anak Adam! Berinfaqlah, pasti Aku akan limpahkan kurniaanku kepadamu. Sesungguhnya 'Yaminullah' (gudang nikmat dan kelebihanNya), sangat penuh berlimpah ruah, tidak akan susut sedikitpun siang ataupun malam."
(Hadis qudsi riwayat Daraquthni dari Abu Hurairah r.a.)

Keterangan:
Allah memerintahkan hamba-hambaNya supaya berinfaq dan membelanjakan sebahagian rezeki yang telah dilimpahkanNya kepada fakir-miskin, orang-orang yang sangat memerlukannya dan untuk kebaikan dan manfaat orang ramai, dan janganlah kikir kerana takut kehabisan hartanya atau susut bilangan dan jumlahnya.

Sumber text: Hadis Qudsi oleh KHM Ali Usman et al.
Sumber imej: bumn.go.id

Dahsyatnya sedekah


Di dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Tarmidzi dan Ahmad, sebagai berikut :

Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat berasa amat hairan akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?” Allah menjawab, “Ada, yaitu besi” (Kita mafhum bahwa gunung batu pun boleh menjadi rata ketika dibajak oleh buldozer atau sejenisnya yang dibuat dari besi).

Para malaikat pun kembali bertanya, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada besi?”

Allah yang Mahasuci menjawab, “Ada, yaitu api” (Besi menjadi cair dan mendidih setelah dibakar bara api).

Bertanya kembali para malaikat, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada api?”

Allah yang Mahaagung menjawab, “Ada, yaitu air” (Api membara sedahsyat mana pun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).

“Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?” Kembali bertanya para malaikat.

Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, “Ada, yaitu angin” (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain kerana dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).

Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, “Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?”

Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, “Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya.

Sumber text: evakurniawan.wordpress.com
Sumber imej: www.nyebur.com

Saturday, November 19, 2011

Hadis Rasulullah tentang sedekah


Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah r.a.,
katanya: Rasulullah S.A.W berucap kepada kami, sabdanya:
" dan banyakkanlah bersedekah secara bersembunyi-sembunyi atau terang-terangan :
nescaya kamu diberi rezeki yang mewah, diberi kemenangan (terhadap musuh) dan diganti apa yang kamu dermakan itu dengan balasan yang berganda-ganda"

Riwayat Ibnu Majah

Satu dirham mendahului seribu dirham


Ketahuilah bahwa sedekah yang sedikit dari orang yang tidak punya adalah lebih utama di sisi Allah Ta’ala daripada sedekah yang banyak dari orang yang banyak harta. Sabda Rasullulah SAW : “Satu dirham telah mendahului seribu dirham para sahabat bertanya: Bagaimana boleh terjadi demikian? Jawab beliau: seorang lelaki tidak punya kecuali dua dirham, disedekahkannya satu dirham. Lelaki yang lain bersedekah seribu dirham dari hartanya yang bertumpuk – tumpuk. Demikianlah satu dirham telah mendahului seribu dirham.”
Nyatalah kini dengan satu dirham yang disedekahkan oleh orang miskin itu lebih utama dari seribu dirham dari orang yang banyak harta.

Sumber text: ruangberkas.com
Sumber imej: my-koleksi.blogspot.com

Friday, November 18, 2011

Khasiat Surah Al Waqiah


Sabda Rasulullah s.a.w.: “Sesiapa membaca surah Al-Waqi’ah setiap hari, ia tidak akan ditimpa kefakiran.”

Sabda Rasulullah s.a.w. : “Siapa membaca surah Al-Waqi’ah setiap malam, dia tidak akan ditimpa kesusahan atau kemiskinan selama-lamanya. (Diriwayatkan oleh Baihaqi dari Ibnu Mas’ud r.a.)

Sabda Rasulullah s.a.w. : “Ajarkanlah surah Al-Waqi’ah kepada isteri-isterimu. Kerana sesungguhnya ia adalah surah Kekayaan.” (Hadis riwayat Ibnu Ady)

Sabda Rasulullah s.a.w. : “Barang siapa yang membaca surah Al-Waqi’ah setiap malam maka dia tidak akan tertimpa kefakiran dan kemiskinan selamanya. Dan surah Al-Waqi’ah adalah surah kekayaan, maka bacalah ia dan ajarkan kepada anak-anakmu semua.”

Menurut fatwa sebahagian Ulama’ katanya: “Barangsiapa membaca surah Al-Waqi’ah pada setiap hari dan malam dalam satu majlis sebanyak 40 kali, selama 40 hari pula, maka Allah akan memudahkan rezekinya dengan tanpa kesukaran dan mengalir terus dari pelbagai penjuru serta berkah pula.”

Surah Al-Waqi’ah adalah surah yang ke -56 di dalam Al-Quran, terletak pada juzuk ke 27 dan terdiri dari 96 ayat. Dinamakan Al-Waqi’ah kerana di ambil dari lafal Al-Waqi’ah yang terdapat pada ayat pertama surah ini, yang ertinya kiamat. Di dalam surah Al-Waqi’ah ini menerangkan tentang hari kiamat, balasan yang diterima oleh orang-orang mukmin dan orang-orang kafir. Diterangkan pula penciptaan manusia, tumbuh-tumbuhan, dan api, sebagai bukti kekuasaan Allah dan adanya hari berbangkit.

Di dalam surah Al-Waqi’ah terkandung beberapa khasiat, antara lain:

a) Bila orang membiasakan membaca surah ini setiap malam satu kali, maka dia dijauhkan dari kemiskinan selamanya.

b) Bila di baca 14 kali setiap selesai solat Asar, maka orang yang membacanya itu akan memperoleh kekayaan yang berlimpah ruah.

c) Jika di baca surah ini sebanyak 41 kali dalam satu majlis (sekali duduk), insyaAllah di tunaikan segala hajatnya khususnya yang berkaitan dengan rezeki.

d) Supaya menjadi orang yang kaya sentiasa bersyukur, amalkan membaca surah ini sebanyak 3 kali selepas solat subuh dan 3 kali selepas solat Isya’. InsyaAllah tidak akan berlalu masa setahun itu melainkan ia akan di jadikan seorang yang hartawan lagi dermawan.

e) Amalan orang-orang sufi, supaya dilimpahkan rezeki. Hendaklah berpuasa selama seminggu bermula pada hari Jumaat. Setiap selepas solat fardhu bacalah Surah Al-Waqi’ah ini sebanyak 25 kali sehinggalah sampai pada malam Jumaat berikutnya; pada malam Jumaat berikutnya itu, selepas solat Maghrib bacalah surah ini sebanyak 25 kali, selepas solat Isya’ bacalah surah ini sebanyak 125 kali diikuti dengan selawat keatas Nabi sebanyak 1000 kali. Setelah selesai, hendaklah ia memperbanyakkan sedekah. Kemudian amalkanlah surah ini sekali pada waktu pagi dan petang. Insya’Allah berhasil.

Menurut As’Syeikh Abi’l Abbas katanya:

- Bila hendak mengamalkan surah Al-Waqi’ah ini, terlebih dahulu berpuasa selama 7 hari, di mulai pada hari Jumaat berakhir pada hari Khamis. Puasanya “tidak memakan sesuatu yang bernyawa / tidak makan ikan, daging, segala haiwan, hanya makan sayur-sayuran sahaja.

- Dalam 7 hari itu, sesudah solat fardhu, membaca surah Al-Waqi’ah sebanyak 25 kali. Apabila bacaan tersebut di mulai setelah solat fardhu Subuh pada hari Jumaat pertama, maka diakhirilah pembacaan Al-Waqi’ah itu pada setelah fardhu Isya’ pada Jumaat berikutnya.

- Pada malam Jumaat terakhir ini hendaklah membaca surah Al-Waqi’ah sebanyak 125 kali kemudian selawat 1000 kali.

Insya’Allah, dengan mengamalkan seperti berikut, ia akan menjadi orang kaya.

Sumber text : alivewire.wordpress.com

Sumber imej: hik4m.blogspot.com

Link bacaan Surah Waqiah oleh Imam Masjidil Haram:


Berkat Rezeki kerana sedekah

Kekayaan tidak membawa erti tanpa ada keberkatan. Dengan adanya keberkatan, harta/rezeki yang sedikit akan dirasakan seolah-olah banyak dan mencukupi. Sebaliknya tanpa keberkatan akan dirasakan sempit dan susah meskipun banyak harta.

Dalam kisah Nabi, ada diceritakan Nabi Ayub ketika sedang mandi tiba-tiba Allah datangkan seekor belalang emas dan hinggap di lengannya. Baginda menepis-nepis dengan bajunya. Lantas Allah berfirman 'Bukankah Aku lakukan begitu supaya kamu menjadi lebih kaya?' Nabi Ayub mejawab 'Ya benar, demi keagunganMu apalah makna kekayaan tanpa keberkatanMu'. Kisah ini menegaskan betapa pentingnya keberkatan dalam rezeki yang dikurniakan oleh Allah.

Cara untuk mendapatkan keberkatan daripada Allah:

1. Bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah.
2. Belanjakan harta pada jalan yang diredhai oleh Allah.
3. Berusaha untuk mendapatkan rezeki yang halal
4. Keluarkan sedekah wajib (zakat) jika sampai nisab dan berikan sedekah sunat kepada orang miskin dan anak yatim.
5. Bersedekah kepada anak yatim/miskin kalau boleh setiap hari.
(cari anak-anak yatim untuk diberikan). Insyallah akan diganti oleh Allah tanpa kita sedari.
6. Ikhlaskan pemberian/sedekah hanya kepada Allah bukan mengharapkan pujian dan sebagainya. (Pemberian tangan kanan tanpa diketahui tangan kiri). Sedekah mulakan dengan keluarga sendiri dahulu selepas itu barulah kepada jiran dan orang-orang yang lebih jauh. Jangan anggap pemberian itu hak kita sebenarnya dalam harta kita ada hak mereka.
7. Hulurkan pemberian sunat secara rahsia - tetapi pemberian wajib (zakat) perlu diberi secara terangan sebagai menegakkan syiar Islam.
8. Konsep sedekah : berikan sesuatu yang kita sayangi. Ini jelas dalam ayat Quran Ali Imran ayat 92
9. Cari harta dunia untuk dijadikan bekalan akhirat. (Dunia untuk akhirat - bukan dunia untuk dunia)
10. Amalan yang diberkati ialah hasil peluh sendiri dan juga melalui jual-beli (perniagaan). Menurut Nabi 9/10 (90%) daripada sumber rezeki ialah berpunca daripada perniagaan. Makan gaji mungkin 1/10 sahaja (10%). Nabi Muhammad sendiri sebelum diutus menjadi rasul adalah seorang ahli perniagaan yang jujur, cekap dan amanah. Peniaga yang amanah akan dibangkitkan bersama para nabi dan rasul di akhirat kelak. Perniagaan merupakan amalan fardu kifayah. Barang makanan orang Islam sepatutnya dikeluarkan sendiri oleh orang Islam. Kalau tidak ada menjalankan aktiviti ini, seluruh umat Islam berdosa.
11. Hulurkan bantuan kepada janda yang ketiadaan suami.

Dalam satu hadith, Nabi menerangkan setiap awal pagi, semasa terbit matahari ada dua malaikat menyeru kepada manusia di bumi. Yang satu menyeru 'Ya Tuhanku, kurniakanlah ganti kepada orang yang membelanjakan hartanya kerana Allah. Yang satu lagi menyeru 'Musnahkanlah orang yang menahan hartanya (lokek)'

Orang yang bakhil tidak manfaatkan hartanya untuk dunia dan akhiratnya. Menginfaqkan (Belanjakan) harta adalah berkat, sebaliknya menahannya adalah celaka. Dalam hadith lain, nabi bersabda takutilah api neraka walaupun dengan sebelah biji tamar. Dan sabdanya lagi Sedekah itu penghapus dosa sebagaimana air memadam api.

Sedekah walaupun kecil tetapi amat berharga di sisi Allah. Dan digalakkan memberi sedekah pada awal pagi. Sekiranya dapat diamalkan perkara-perkara di atas, insyallah rezeki yang dikurniakan oleh Allah akan kekal walaupun telah digunakan. Allah akan membalas atau menggantikan apa yang telah dibelanjakan. Amalkan ilmu yang ada, nanti Allah akan menambahkan ilmu lagi. Begitu juga harta - belanjakan harta yang ada, Allah akan tambahkan lagi dari sumber yang kita tidak ketahui.

- sumber: penulis tanpa nama