Tuesday, November 22, 2011

Kikir, Membuat Hidup Makin Fakir


Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr 9)
Abu al-Hiyaj bercerita, “Saya melihat seorang syeikh sedang thawaf di Baitullah sembari berdoa, ‘Rabbi qiniy syuhha nafsi, Rabbi qiniy syuhha nafsi, Wahai Rabbi, jauhkanlah diriku dari kekikiran, wahai Rabbi, jauhkanlah diriku dari kekikiran…” Dia terus menerus membaca doa itu dan tidak menambahnya dengan yang lain. Lalu saya mencari tahu tentangnya, ternyata beliau adalah sahabat Abdurrahman bin Auf RA. Akupun menemui beliau dan bertanya tentang alasan beliau membaca doa itu, lalu beliau membacakan firman Allah,
وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr 9)
Tiada Beruntung Orang yang Kikir
Ingin mengumpulkan harta sebanyak mungkin, dan bakhil mendermakannya selain untuk keinginan nafsunya, adalah tabiat buruk yang disandang banyak manusia. Dengan sifat itu, mereka menyangka bisa meraih keberuntungan. Namun ayat ini justru meyakinkan sebaliknya. Keberuntungan bisa didapatkan ketika seseorang terhindar dari sifat kekikiran. Sifat kikir mengundang banyak sekali kerugian dan keburukan, maka barangsiapa yang terhindar darinya, maka dia terhindar dari banyak kerugian dan keburukan.
Makna ’Syuhha nafsuhu’ tidak hanya sebatas bakhil, atau menolak untuk memberi. Akan tetapi juga disertai ambisi untuk memiliki apa-apa yang sudah dimiliki oleh orang lain. Dari definisi ini, bisa dibayangkan betapa besar kerugian yang akan dialami oleh orang yang berkarakter kikir.
Kerugian pertama dialami oleh hati. Orang yang kikir tak pernah merasakan lapangnya dada, atau puasnya hati saat memiliki. Panasnya hati saat berambisi terhadap sesuatu yang belum dimiliki, melalaikan dirinya dari kebahagiaan yang mestinya dia rasakan karena telah memiliki sesuatu yang bisa dinikmati. Derita ini tidak pernah berkurang kadarnya, meski dia telah berhasil meraih ambisinya. Karena sifat tamaknya segera mengalihkan pandangannya kepada kenikmatan lain, sebelum dia sempat menikmati hasil jerih payahnya. Jika keberhasilannya meraih tujuan tak bisa membuat hati menjadi nyaman dan tenang, lantas bagaimana jika usahanya menemui jalan buntu, betapa hatinya makin terbakar karenanya. Sungguh beruntung, jiwa yang terhindar dari kikir dan bakhil.
Kerugian kedua adalah miskin teman dan renggangnya hubungan kekerabatan. Orang yang kikir akan dijauhi, karena tak ada untungnya bergaul dengan orang yang kikir dan bakhil. Ambisi dan sifat rakusnya bahkan membahayakan siapapun yang dekat dengannya. Hartanya terancam, kehormatannya teranacam, bahkan terkadang nyawa juga tak aman dari ancaman. Karena orang yang kikir hanya peduli dengan dirinya sendiri, dan tidak memikirkan kepentingan orang lain. Nabi SAW bersabda,
”Jauhilah oleh kalian sifat kikir (syuhh). Karena sifat itulah yang membinasakan orang-orang sebelum kalian. Sifat kikir menyuruh mereka berlaku zhalim, maka merekapun berlaku zhalim. Kikir menyuruh mereka memutus kekerabatan, merekapun memutusnya.” (HR Abu Dawud)
Harta yang mestinya berfaedah menenangkan jiwa, juga mengikat sahabat dan kerabat, justru menjadi petaka bagi orang yang bakhil. Padahal persahabatan, persaudaraan dan kekerabatan adalah faktor penting yang mendukung kebahagiaan dan ketenangan. Jauh lebih penting dari sekedar mempertahankan harta dan menimbunnya.
Adalah Qais bin Sa’ad bin Ubadah RA dikenal sebagai orang yang suka berderma. Suatu hari beliau sakit, namun teman-temannya tak kunjung menjenguknya. Beliau merasa penasaran, lalu mencari tahu tentang sebabnya. Hingga kemudian diperoleh jawaban, bahwa mereka malu untuk datang karena masih punya tanggungan hutang kepada beliau. Beliau berkata, ”Alangkah buruknya harta yang menghalangi seseorang untuk menjenguk saudaranya.” Lalu beliau menyuruh untuk diumumkan bahwa siapapun yang memiliki beban hutang kepada Qais, maka diputihkan dan dianggap lunas. Maka sore harinya daun pintunya rusak lantaran banyaknya orang yang menjenguk beliau. Sungguh beruntung orang yang terhindar dari sifat kikir dan bakhil.
Fakir di Dunia, Siksa di Neraka
Meski sifat kikir diharapkan bisa mendatangkan keuntungan materi bagi pemiliknya, namun tidak demikian kenyataannya. Kikir tak akan menambah harta dunia, apalagi kekayaan akhirat. Orang yang kikir akan luput dari doa malaikat untuk keberkahan orang yang mendermakan hartanya. Justru doa kebangkrutan tiap pagi yang tertuju untuknya. Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Nabi bersabda,
”Tiada datang pagi hari yang dilalui hamba Allah, melainkan ada dua malaikat turun. Salah satunya berdoa, ”Ya Allah berilah ganti (yang lebih baik) baik orang yang berderma.” Sedangkan satu malaikat lagi berdoa, ”Ya Allah, timpakanlah kebangkrutan atas orang yang menahan pemberian.” (HR. Bukhari)
Yang paling parah, sifat kikir menyebabkan seseorang miskin pahala kebaikan. Karena sifat ini merusak hasrat akhirat, menjauhkan pemiliknya dari keberuntungan yang hakiki dan abadi. Hasratnya hanya tertuju untuk dunia yang hina dan fana. Maka kelak, sebagai balasan bagi mereka,
Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. at-Taubah: 35)
Allahumma qinaa syuhha anfusanaa”, ya Allah, jauhkanlah diri kami dari kekikiran. Amien. (Abu Umar Abdillah)

sumber text: ahmad-zulboys.blogspot.com

Monday, November 21, 2011

Redha Allah bergantung atas redha ibu bapa


Keredhaan Allah atau Mardhotillah adalah sesuatu yang diharapkan oleh sekalian hamba Allah yang beriman. Setiap amalan yang kita lakukan hendaklah dengan niat untuk mendapat keredhaan Allah kerana tiada apa lagi ganjaran yang lebih tinggi melainkan redha Allah s.w.t ke atas kita semua. Dengan redha Allah barulah kita mendapat bantuan, pertolongan dan ganjaran dari Nya. Salah satu jalan meraih redha Allah adalah dengan mencari keredhaan ibu dan bapa kita.

Mencari keredhaan ibu bapa tampak seperti perkara kecil bagi muda-mudi Islam di zaman moden ini. Ada dari kita yang tidak menjaga adab dengan ibu bapa, ada yang mengaggap ibu bapa seperti rakan sebaya malah ada dari kita yang sanggup membentak dan menderhaka kepada kedua insan yang membesarkan kita dengan penuh susah dan payah. Mengundang kemarahan ibu bapa sama ertinya dengan mengundang kemarahan dan kemurkaan Allah s.w.t. Begitu juga sebaliknya. Rasulullah s.a.w bersabda:

"Sesiapa yang memancing kemarahan ibu bapanya bererti dia memancing kemurkaan Allah dan sesiapa yang menyukakan hati ibu bapanya
bererti dia membuat Allah redha kepadanya." (Riwayat Baihaqi)

Kemarahan ibu bapa kadang kala tidak terlihat di raut wajah mereka. Kita sama sekali tidak tahu mereka berkecil hati terhadap perilaku kita. Oleh kerana itu adalah menjadi kewajiban bagi kita semua untuk menjaga adab dan tingkah laku kita sebagai seorang anak setiap masa sebagaimana firman Allah s.w.t:

"Dan TuhanMu telah perintahkan, supaya engkau tidak menyembah melainkan kepadaNya semata-mata, dan hendaklah engkau berbuat baik kepada ibu bapa. Jika salah antara keduanya atau kedua-duanya sekali, sampai kepada umur tua dalam jagaan dan peliharaanmu, maka janganlah engkau berkata kepada mereka (sebarang perkataan kasar) sekalipun "Uh", dan janganlah engkau menengking menyergah mereka, tetapi katakanlah kepada mereka perkataan yang mulia (bersopan santun)." (Al-isra' :23)

Cuba kita merenung kembali saat mereka membesarkan kita. Ketika itu kita hanyalah seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Tiada kekuatan dan tiada daya dan upaya tanpa pertolongan mereka. Bayangkan saat kita semua menangis ditengah malam, mereka bersengkang mata mendodoi dan menidurkan kita.

Tiada istilah tidur nyenyak bagi mereka demi untuk memastikan kita tidur dengan baik. Adakah kita semua lupa saat itu?. Fikirkan kembali bagaimana mereka memberikan kita makan, tempat tinggal, pelajaran, duit dan segala macam kesenangan untuk membesarkan kita hingga kita menjadi diri kita sekarang ini. Fikirkah kita semua itu?.

Sekarang, saat kita membesar dan mempunyai kekuatan, daya dan kesenangan, mudah bagi kita melupakan jasa kedua ibu bapa. Sedangkan suatu masa dahulu kita hanya tahu menangis dan meminta. Ketika mereka tidak lagi berdaya, tubuh sudah lemah, rambut dipenuhi uban dan mata mulai kabur, mungkinkah bagi kita menjaga mereka sama seperti mereka menjaga kita sewaktu kita kecil?.

Fikirlah sejenak wahai diriku dan saudaraku sekalian. Ada benarnya pepatah mengatakan bahawa seorang ibu dan bapa boleh menjaga sepuluh orang anak dalam suatu masa namun sepuluh orang anak belum tentu boleh menjaga seorang ibu dan bapa. Itulah hakikat pahit yang perlu ditelan.

Lihatlah wajah mereka, curahkanlah segala kasih sayang buat ibu dan bapa. Sesungguhnya mengasihi mereka membuahkan kemaafan dan keampunan dari Allah terhadap dosa kita. Ketika Abu Musa dan Abu Amir sampai ke Madinah dan berbai'ah kepada Rasulullah, maka Rasulullah bertanyakan keadaan isteri mereka ketika ditinggalkan. Mereka menjawab "Isteri saya tinggal bersama orang tuanya dan berbakti kepadanya" Rasulullah s.a.w berkata "Dosa-dosanya telah diampunkan oleh Allah s.w.t" Mereka bertanya kepada Rasulullah "Kenapa ya Rasulullah?." Baginda menjawab "Kerana dia berbakti kepada orang tuanya".

Hargailah ibu bapa kita selagi hayat mereka masih ada. Selagi mereka masih disisi kita, itu adalah anugerah Allah dan wajiblah kita menjaga mereka sebaik mungkin. Tanpa ibu dan bapa siapalah kita. Ucapkanlah kata sayang, tautkanlah bibit cinta dan rantaikanlah dengan rantaian kasih bersama mereka. Moga redha Allah bersama dengan kita kerana redhanya ibu bapa terhadap kita. insyaAllah.

sumber text: iluvislam.com

sumber imej: fafahmadbelog.blogspot.com

Sunday, November 20, 2011

Pengemis Pelit dan Wanita Dermawan


Semua orang tahu akan kekuatan sedekah, kekuatan berbagi pada sesama, serta kekuatan memberi pertolongan dengan ikhlas. Hari itu hati saya dibukakan sebuah peristiwa tentang dampaknya jika kita tidak mau memberi atau berbagi dengan sesama. Kisah ini terjadi saat saya masih SMA, tapi sampai sekarang masih melekat dalam ingatan saya.

Saat itu saya bersama beberapa teman mendaki sebuah gunung. Karena persiapan dan perbekalan kami tidak memadai, kami kehabisan bekal sampai puncak. Seumur hidup, saat itulah saya merasakan yang namanya orang kelaparan dan kehausan dalam situasi yang nyata (bukan puasa).

Dalam proses menuruni gunung, kami sangat bersyukur karena akhirnya bisa sampai di sebuah desa. Rumah pertama yang kami tuju adalah sebuah rumah megah waktu itu. Hanya satu yang sangat kami butuhkan saat itu; air…..

Sungguh diluar dugaan, saat kami akan meminta air, kami dibentak-bentak oleh orang tua di halaman rumah megah tersebut. Saat itu di depan bapak tua ada sepiring kue dengan jumlah yang banyak serta air putih yang cukup dipakai minum kami berlima. Dengan nada sinis bapak tua itu mengatakan kalau kami tidak boleh minum air yang dia punya dan kue yang ada di meja. Kami disuruh minum air kran…..!

Karena sudah sangat kehausan dan kelaparan, akhirnya kami berlima minum air kran yang ada di halaman. Dua orang teman saya sudah minum air kran, tiba saatnya saya yang akan minum tiba-tiba keluar seorang wanita dari dalam rumah.

Yang membuat saya syok, wanita itu memarahi kami. Kami tidak boleh minum air dari kran rumahnya. Saya kira dia pelit juga seperti bapak tua tadi, tapi ternyata maksudnya kami disuruh minum air yang ada di depan bapak tua tersebut. Dia mengatakan kalau air kran tidak sehat…..

Saat wanita itu akan mengambil air yang ada di depan bapak tua, tiba-tiba bapak tua tadi marah. Dia bersikeras kalau air itu adalah hak dia, dia tidak mau membaginya pada kami. Kami tetap disuruh meminum air kran saja agar jatah dia tidak berkurang.

Dengan lantang wanita itu langsung mengusir bapak tua tadi. Ternyata bapak tua tadi adalah seorang PENGEMIS yang setiap hari diberi jatah makanan oleh wanita kaya tersebut. Dan saat itu juga wanita itu berjanji tidak akan mau memberi lagi makanan kepada pengemis tua itu karena peristiwa yang terjadi pada kami.

Tanpa kami sangka, wanita tadi mengeluarkan semua makanan yang ada dalam rumahnya. Nasi, lauk pauk, buah, sampai kue-kue dia keluarkan dan menyuruh kami memakannya. Dia sempat berlinang air mata melihat kondisi kami yang kelaparan dan kehausan. Pakaian kami sangat kotor waktu itu karena beberapa kali kami harus merangkak karena kehabisan tenaga…..

Saudaraku, dari kisah saya ini bisa kita lihat. Bahwa Allah akan mencurahkan rejeki berlimpah pada orang yang mau berbagi. Wanita kaya tadi rejekinya berlimpah karena dia selalu berbagi pada siapa saja yang membutuhkan. Sedangkan pengemis tadi, rejekinya sulit karena dalam hidupnya selalu memikirkan dirinya sendiri tanpa mau berbagi.

Semoga kisah ini bermanfaat dan menjadi bahan renungan kita semua. Sukses untuk Anda…..

sumber text: motivasi.petamalang.com

sumber imej: mahmudsha.wordpress.com


Jika aku jatuh hati

Layan...

sumber: youtube

Di Kala Duka, Berselimutlah dengan Istighfar

Dalam kehidupan sehari-hari masalah sangat akrab dalam kehidupan kita. Bentuknya bermacam-macam. Ada yang kesulitan mendapatkan jodoh. Ada yang diuji Allah SWT dalam mendapatkan pekerjaan. Tidak sedikit yang kehilangan orang yang dicintai baik orang tua, anak atau pasang hidup.

Pada situasi itu biasanya kita merasakan kesedihan mendalam. Dunia terasa mau runtuh, hidup terasa sempit karena kita tidak berhasil mendapatkan apa yang diinginkan. Kita merasa sendirian dalam menjalani kerasnya kehidupan.

Melihat masalah memang tidak ada habisnya. Setiap manusia hidup, Allah SWT akan mengujinya dengan masalah. Itu sudah janji Allah SWT menguji keimanan dan ketangguhan manusia mengarungi samudera kehidupan. Dalam mekanisme itu terjadi seleksi alam. Bagi yang memiliki keimanan kuat, dia akan berusaha bertahan sehingga Allah SWT memberikan jalan. Tapi bagi yang lemah keimanan berdampak frustasi (stress) yang tak jarang berakhir bunuh diri.

Masalah sendiri sangat berkorelasi positif dengan paradigma (sudut pandang). Seorang yang memandang negatif masalah akan berdampak aura negatif. Berbeda ketika kita memandangnya sebagai peluang. Energi negatif berubah menjadi energi positif. Ketakutan berganti timbulnya rasa optimisme.

Allah sendiri sudah menegaskan, salah satu terapi mengatasi masalah adalah istighfar. Allah SWT menjamin, orang yang banyak istighfar tidak akan merugi. Dan janji Allah SWT itu pasti dan tak terbantahkan. Jadi jika anda punya masalah kesulitan mendapatkan rezeki, anak dan kebahagiaan perbanyaklah istighfar. Jaminan itu terlukis indah dalam Al-Qur’an :

Allah berfirman,”Maka aku katakan kepada mereka: ”Mohonlah ampun (istighfar) kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS.Nuh: 10-12).

Banyak manusia tidak menyadari kekuatan rahasia yang terkandung dalam istighfar. Istighfar terbatas dimaknai sebagai permohonan ampun atas segala dosa. Pemaknaan ini membuat kita kadang malas beristighfar. Sebagian orang “melupakan” energi besar istighfar sebagai warisan agung Rasulullah SAW. Rasulullah bersabda,

“Sungguh, Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya daripada kegembiraan salah seorang dari kalian yang menemukan ontanya yang hilang di padang pasir.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Ya, makna istighfar sebagai penghapus dosa itu benar adanya. Tapi sudut pandang itu terlalu sempit. Cobalah menggali lebih dalam indahnya istighfar. Sebab seandainya masalah itu penyakit, istighfar adalah obat yang mujarab. Jika sudah ada obatnya, gratis pula mengapa kita tidak menikmatinya.

Sungguh penghalang kita terhadap Allah Rabbul Izzati salah satunya adalah kebiasaan bermaksiat. Maksiat membuat rezeki kita terhalang. Maka ketika menjalani proses istighfar, kita diminta memohon ampun, menjauhi maksiat dan meminta kebaikan. Rasulullah bersabda :

Siapa yang banyak beristighfar, Allah akan membebaskannya dari berbagai kedukaan. akan melapangkannya dari berbagai kesempitan hidup, dan memberinya curahan rejeki dari berbagai arah yang tiada diperkirakan sebelumnya. (HR Ahmad)

Kebaikan banyak macam dan bentuknya. Salah satunya seperti yang diterangkan hadits di atas. Kesempatan mendapatkan rezeki menjadi salah satu bentuk kebaikan. Maka istighfar menjadi solusi dari 1001 masalah kita. Sungguh tak ada ruginya mengikuti jejak Rasulullah SAW yang membiasakan 100x istighfar dalam sehari. Padahal beliau sudah mendapatkan jaminan syurga dan tidak kekurangan harta dunia selama menjalani hidupnya.

Membaca istighfar sama dengan sedekah. Dengan memperbanyak beristighfar, percayalah rezeki kita akan mengalir lancar. Kesedihan hati akan hilang, digantikan kelapangan dada menerima takdir Allah. Tentunya setelah berproses dan berikhtiar (berusaha keras). Dan tahukah anda? Istighfar membuat Allah senang apalagi jika kita menjadikan sebuah rutinitas harian.

Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka,”(HR.Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).

sumber text: www.fimadani.com

sumber imej: www.fimadani.com


Pahala Infaq


Allah s.w.t. berfirman dalam hadis qudsi:
"Wahai anak Adam! Berinfaqlah, pasti Aku akan limpahkan kurniaanku kepadamu. Sesungguhnya 'Yaminullah' (gudang nikmat dan kelebihanNya), sangat penuh berlimpah ruah, tidak akan susut sedikitpun siang ataupun malam."
(Hadis qudsi riwayat Daraquthni dari Abu Hurairah r.a.)

Keterangan:
Allah memerintahkan hamba-hambaNya supaya berinfaq dan membelanjakan sebahagian rezeki yang telah dilimpahkanNya kepada fakir-miskin, orang-orang yang sangat memerlukannya dan untuk kebaikan dan manfaat orang ramai, dan janganlah kikir kerana takut kehabisan hartanya atau susut bilangan dan jumlahnya.

Sumber text: Hadis Qudsi oleh KHM Ali Usman et al.
Sumber imej: bumn.go.id

Dahsyatnya sedekah


Di dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Tarmidzi dan Ahmad, sebagai berikut :

Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat berasa amat hairan akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?” Allah menjawab, “Ada, yaitu besi” (Kita mafhum bahwa gunung batu pun boleh menjadi rata ketika dibajak oleh buldozer atau sejenisnya yang dibuat dari besi).

Para malaikat pun kembali bertanya, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada besi?”

Allah yang Mahasuci menjawab, “Ada, yaitu api” (Besi menjadi cair dan mendidih setelah dibakar bara api).

Bertanya kembali para malaikat, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada api?”

Allah yang Mahaagung menjawab, “Ada, yaitu air” (Api membara sedahsyat mana pun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).

“Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?” Kembali bertanya para malaikat.

Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, “Ada, yaitu angin” (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain kerana dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).

Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, “Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?”

Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, “Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya.

Sumber text: evakurniawan.wordpress.com
Sumber imej: www.nyebur.com